Tentang kami

Sejarah Berdirinya Sekertariat Bersama’65 (SekBer’65)
“Wadah Perjuangan dan Alat Pemersatu Korban’65”

Pada akhir tahun 2004 para korban tragedi 1965/1966 berkumpul guna memperingati peringatan hari suci umat Islam yaitu hallal bil hallal di Puspo Langgeng Kepatihan Surakarta. Rupanya dari pertemuan yang amat sederhana tersebut telah menjadikan peristiwa sejarah bagi perkembangan korban tragedi 1965. Sebab pertemuan di Puspa Langgeng tersebut merupakan pertemuan seluruh korban tragedi 1965. Baik yang berbaju YPKP, LPKP, LPRKROB, PAKORBA, GRI dan sebagainya. Hal ini merupakan sebuah kenyataan baru yang sangat di syukuri. Sebab, kita tahu kalau masing-masing organisasi itu sangat sulit untuk saling duduk bersama bersatu padu guna menyelesaikan persoalan tragedi 1965. Masing- masing saling menjaga eksistensi pribadi maupun organisasinya maupun berbeda dalam hal tak tik strategi perjuangannya. Fenomena seperti ini amat sangat merugikan korban itu sendiri. karena perjuangan maupun tuntutannya sangat tidak fokus. Ambisi individual yang berbungkus organisasi amatlah merugikan korban. Rupanya hal ini tak pernah di sadari oleh pengurus pusat masing-masing organisasi tersebut. Mereka tak pernah menyadari betapa pentingnya sebuah persatuan. Bahkan intrik-intrik terus berlangsung. Baik intrik secara individual maupun intrik secara organisasional. Semua ini hanya memenuhi ambisi pribadi yang mengatasnamakan organisasi.
Secara historis, SekBer’65 mengucapkan banyak- banyak terimakasih kepada  LPH YAPHI. Yang mana dari pertemuan tersebut dia atas, LPH YAPHI pada tahun 2005 tepatnya 17 Juli 2005 mempersatukan korban tragedi 1965. Maka berdirilah SekBer’65 kepanjangan dari SEKERTARIAT BERSAMA KORBAN 1965. Berdasarkan analisa LPH YAPHI maka yang perlu di lakukan oleh korban adalah persatuan. Maka SekBer’65 berisi dari semua korban 65. Entah masing- masing korban dulu pernah bernaung dalam organisasi apa saja. Korban tragedi 1965 sangat merasakan dampak dari pada perpecahan tersebut. Sehingga korban di tingkat bawah hampir frustasi, kehilangan semangat berjuang, kehilangan kepercayaan lagi terhadap organisasi yang ada. Begitu pula dengan pengurus pusat. Perjuangan mereka selalu mentok tak menimbulkan hasil yang cukup sigfnifikan sehingga mereka kehilangan kepercayaan diri yang mengakibatkan aktifitas organisasi juga tersendat- sendat. Bahkan boleh dikatakan mati suri. Maka, SekBer’65 sekali lagi mengucapkan terimakasih pada LPH YAPHI yang mencoba memecahkan kebuntuan, menghidupkan kembali gairah perjuangan lewat SekBer’65. Awal berdirinya SekBer’65 ini berat tantangannya. Banyak serangan yang terus menerpa. SekBer’65yang bertujuan mempersatukan korban 65 justru di tuduh memecah belah. Bahkan dari internal sendiri singkatan dari  SEKBER adalah SEKARAT BERSAMA. Namun cibiran dan cercaaran tersebut merupakan sebuah tantangan yang menjadi picu untuk terus berjuang. Dari anggota 10 orang di Solo makin lama berkembang se Karesidenan Surakarta, Karesidenan Kedu, Karesidenan Banyumas. Sambutan dari yang negatif berubah total menjadi sebuah sambutan yang amat positif. Pertemuan- pertemuan rutin yang di adakan oleh setiap wilayah SekBer’65 di tiap kota/kabupaten selalu berkembang. Banyak hasil positif yang dapat dimbil dari pertemuan tersebut. Yaitu, mereka bisa saling melepaskan rasa suka dan duka diantara korban, saling tukar informasi, saling berkomunikasi. Yang paling penting adalah hilangnya rasa trauma masa lalu dan memunculkan semangat juang yang telah hilang. Berjuang demi sebuah pengungkapan kebenaran yang pada akhirnya negara mengakui adanya sebuah pelanggaran HAM berat pada tahun 1965/1966. Dengan pengakuan negara tersebut maka akan muncul sebuah REKONSILIASI. Nah dari hasil rekonsiliasi tersebut maka, masa depan bangsa dan negara ini akan tertata jadi lebih baik. Sebab sudah tidak ada lagi perasaan saling curiga, saling dendam dan lain sebagainya. Memang hal ini mudah di ucapkan tapi amat sulit di wujudkan. Namun sesuatu tak akan pernah terwujud apabila tak pernah di perjuangkan. Oleh sebab itulah SekBer’65  mencoba berjuang sekuat tenaga dengan sisa umur yang ada untuk mewujudkan hal itu.
Laporan kerja SEKBER 65 ( Refleksi SEKBER 65 )
Sejak  berdirinya tahun 2005 SekBer’65  memiliki  3 tahapan untuk mencapai pengungkapan kebenaran menuju rekonsiliasi :
TAHAP I adalah Tahun Persatuan :
1. Mempersatukan korban 65
Program ini di canangkan selama 1 tahun yaitu 2006 – 2007, jadilah  SekBer’65. 
2. Membangun jaringan ( masuk aliansi AMUK Rakyat )

TAHAP II adalah Tahun Konsolidasi :
1.     Konsolidasi
2.     Membuat pertemuan rutin (menghilangkan trauma, korban tidak sendiri)
3.     Membuka diri baik secara internal maupun eksternal (maknanya adalah pengungkapan kebenaran )
Program ini di canangkan selama 2 tahun yaitu 2007 – 2009
TAHAP III adalah Tahun Perjuangan :
1.     Menghadiri dan terlibat aktif dalam diskusi, seminar siapapun penyelenggaranya. Dengan tujuan membangun relasi dengan stake holder lain
2.     Terlibat aktif dalam organisasi lain baik sebagai pengurus maupun anggota. ( RT, RW dll )
3.     Lobby pada stake holder  (dengan tujuan rekonsiliasi)

 Program ini di canangkan sejak tahun 2010

          Tahapan sebagai tahun perjuangan, maka perlu tak tik strategi perjuangan baru. tak tik strategi ini harus dimengerti dan dipahami oleh korban 65 dalam hal ini SekBer’65 dan harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Oleh sebab itu, kesadaran akan terbentuk bilamana pertemuan harus di tingkatkan baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya. Maka rapat kerja SekBer’65 sangatlah berarti guna menentukan langkah perjuangannya.
Untuk menyatukan langkah dan mengarahkan organisasi maka sangat penting melakukan sebuah rapat kerja bagi organisasi korban yang tergabung dalam wadah Sekertariat Bersama Korban’65. Mengingat perkembangan suhu politik yang tidak menguntungkan, dan mengingat perjalanan SekBer’65 yang sudah cukup lama perlu kiranya membuat organisani ini mandiri. Mandiri secara materi, mandiri secara finansial dan mandiri secara organisasi, sehingga tidak tergantung pada siapapun, bebas berjejaring dengan stake holder.
Dari laporan refleksi tersebut maka semakin jelas kalau selama kurun waktu 7 tahun ternyata mampu mempertahankan  eksistensinya. Oleh sebab itulah maka SekBer’65 lebih di tuntut kinerjanya. Kerja organisasi yang lebih konkrit tentu tak lepas dari sebuah organisasi yang dewasa. Organisasi yang dewasa haruslah mampu mandiri.
Untuk melangkah menuju kemandirian sebuah organisasi, maka pada tanggal 19 April 2012 digelar Kongres Pertama SekBer’65 dengan agenda pengesahan aturan organisasi yaitu Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Maka lewat sebuah ketidak tersedianya dana yang memadai. Lewat sebuah kesederhanaan apa adanya maka SekBer’65 berani melaksanakan Kongres Pertama ini. SekBer’65  menyadari kongres ini jauh dari ideal apalagi sempurna. Pada prinsipnya, kongres ini adalah cara kami untuk meningkatkan perjuangan di sisa sisa usia kami. Tidak lupa kami mengucapkan banyak banyak terimakasih pada semua pihak yang tak bisa kami sebut satu persatu hingga terlaksananya Kongres Pertama ini. SekBer’65 yakin tanpa bantuan dari semua pihak tak mungkin Kongres I ini terlaksana. Dalam Kongres juga disepakati kedepan nama SekBer’65 akan di ubah singkatannya menjadi Sekretariat Bersama ’65 dan tetap disingkat menjadi SEKBER’65.
Untuk menyempurnakan dan menindak lanjuti hasil Kongres I, maka pada tanggal 20 Mei 2012, diadakan Rapat Kerja Pengurus SekBer’65 yang dihadiri seluruh pengurus dari eks- Karesidenan Surakarta, eks-Karisedanan Banyumas dan eks-Karisedanan Kedu. Dari Rapat Kerja ini berhasil menyempurnakan Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan melengkapi struktur kepengurusan SekBer’65 pusat yang berkedudukan di wilayah Surakarta dengan alamat sekretariat  di  Tegalrejo RT 1/ RW IV Jebres Surakarta.
Langkah sebagai organisasi yang mandiri  ditindaklanjuti dengan pada keesokan harinya Senin, 21 Mei 2012 Pengurus Pusat SekBer’65 mencatatkan organisasi pada notaris/ PPAT Tegar Pembangun Dayu Putro, SH yang beralamat di Jl Mayang  No. 1 Kandangdara Kestalan Banjarsari Surakarta, dan mendapatkan AKTA dengan No. 26 pada tanggal 21 Mei 2012. Dengan demikian, inilah titik awal bagi SekBer’65 menjadi sebuah lembaga yang mandiri dan akan menjalankan semua amanah dalam Kongres yang pertama
Kedepan Sekertariat Bersama’ 65 akan terus memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi hak korban’65. Untuk mewujudkan hal tersebut pengurus SekBer’65 telah membuat program dengan tak tik strategi sebagai arah panduan gerakan SekBer’65 yang mandiri dan berdikari. Mari bergabung dengan SekBer’65, karena organisasi inilah alat perjuangan kita korban pelanggaran HAM berat, terutama untuk korban’65.   (didik dyah)

Tidak ada komentar: