Sabtu, 26 Mei 2012

Cerita Korban 1965/1966


Oleh Sonya Hellen Sinombor

"Saya ini bukan orang PKI, komunis pun bukan. Blaas enggak ngerti apa-apa. Namun, karena bapak saya dibuang ke Aceh, dan pada masa kemerdekaan dulu tergabung PKI, saya sebagai anaknya dianggap PKI. Saya ditangkap dan dibuang ke Pulau Nusakambangan selama delapan tahun."

Kisah pahit itu mengemuka dari Sanusi (78), warga Solo yang menjadi korban penangkapan tanpa proses pengadilan, karena dituduh anggota PKI. Kisah itu mencuat dalam acara berbagi dan refleksi korban pelanggaran hak asasi manusia, pada malam Halalbihalal dan Doa Bersama Korban Tragedi 1965/1966, Selasa (29/9).

Kegiatan hasil kerja Lembaga Pengabdian Hukum Yaphi, Sekber '65, dan International Center for Transitional Justice (ICTJ), itu berlangsung di pendopo SMK Negeri 8, Solo. Acara itu menjadi ajang berkumpul sekaligus curhat (curahan hati) bagi para korban tragedi 1965/1966.

Eko Prasetyo dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, meminta para korban sebagai pelaku sejarah menceritakan sejarah yang = sebenarnya kepada generasi muda sekarang.
"Andalah pelaku sejarah, katakan kepada anak cucu apa yang kalian alami. Berikan pelajaran pada generasi kami, sikap pegang teguh kebenaran," ujarnya.

Tampil pula Wagimin (82) yang dibuang di Pulau Nusakambangan dan Pulau Buru, dan Sri (77) yang beberapa kali ditangkap aparat Orde Baru. "Sejak tahun 1965, saya beberapa kali ditangkap dan dilepaskan. Ketika itu saya berusia 17 tahun, suka joget dan menyanyi. Saya dituduh orang PKI dan tidak beragama," ungkap Sri.

Selain itu, ada pula persembahan keroncong dari Sekber '65 dan pementasan sendratari yang melukiskan memorial tragedi 1965 dengan dukungan seniman dari Solo, seperti Gigok Anurogo, St Wiyono, dan Dedek Witranto, guna mewakili perasaan korban.

Sementara sajak Wari Wirana berjudul "Doa untuk Yang Dihilangkan" yang dibaca bersama kedua putrinya, Isabella dan Arbeta, sungguh menggetarkan hati. "Apa salah mereka dihukum tanpa diadili/Apa salah mereka dihilangkan dan tak kembali/Apa salah mereka/Apa pelanggaran mereka/ Pertanyaan ini akan terus memburumu/Memburumu seperti kutukan."

Galuh Wandita dari ICTJ menyatakan, September adalah bulan air mata, karena sejak peristiwa 30 September 1965, Bangsa Indonesia terus dirundung tangisan karena berbagai tragedi. "Kejahatan terus berulang karena tidak ada pelajaran yang dipetik. Pelaku terus menikmati impunitas," ujarnya.

sumber diambil dari                                                          : http://nasional.kompas.com/read/2009/10/01/12463664/.Cerita.Korban.1965/1966

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar